Kamis, 12 Juni 2014

memperingati hari pendidikan

     memperingati hari pendidikan


 Hari Pendidikan Nasional Indonesia yang diambil dari tanggal kelahiran Bapak Pendidikan Kyai Haji Dewantara kali ini mungkin  sama muramnya dengan tahun-tahun lalu. Perayaan tahunan yang berlalu begitu saja selain hanya bentuk perayaan semata yang kadang dipaksakan sekolah untuk anak didiknya, berlalu tanpa kesan yang dalam. 

 Anak didik hanya tahu bahwa tanggal 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional dan itu secara jelas diterangkan berulang kali didepan kelas oleh para pendidik.
Upacara perayaan hari besar untuk pendidikan nasional tersebut umumnya hanya berisi ulangan kutipan Tut Wuri Handayani yang dijejalkan secara mentah ke kepala anak-anak didik yang berdiri tegang menahan panasnya matahari pagi serta mengisi keinginan kepala sekolah sebagai sosok penting dan berkuasa dan menunjukan siapa bos sebenarnya.

OK mungkin itu hanya pengalaman saya saat masih menikmati yang namanya masa-masa sekolah, tentu saja saya tidak mengenyampingkan ribuan bahkan lebih anak-anak siswa yang menikmati betapa pentingnya Hari Pendidikan Nasional tersebut dan secara alamai mamapu mengejawantahkan makna dari hari besar tersebut.

Tahun ini atau tepatnya 2 Mei 2013, Hari Pendidikan Nasional diisi ragam tuntutan yang salah satunya adalah kisruh tahunan Ujian Nasional yang sepertinya tidak habis-habisnya. Mulai dari kebocoran lembaran soal ujian hingga ambisi semu sekolah yang mati-matian mengatrol nilai murid agar sekolah mereka tidak mendapat malu karena anak didiknya ada yang tidak lulus sekolah. Ujian Nasional (UN) menjadi suatu momok yang menakutkan bahkan mungkin jauh lebih menakutkan dari masa-masa ketidakpastian seusai sekolah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar