Kamis, 12 Juni 2014

semangat pergi kesekolah

semangat pergi ke sekolah


 Ketika mentari mulai terlihat merangkak perlahan di ufuk timur, Raodah nampak bergegas menuju kamar tidur anaknya. Pagi yang disambut kokokan ayam jantan dari segala sudut penjuru kampung membuat janda muda itu semakin tampak gelisah. Mengapa tidak, arah jarum jam hampir menunjuk tepat ke angka enam, namun anak semata wayangnya itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Bukan hanya gelisah, namun perlahan raut wajah Raodah terlihat begitu kesal setelah melihat tingkah anaknya yang tak seperti biasanya.
 

“Udin lekas bangun, sudah siang,” begitu kata Raodah setelah tepat berada di tempat pembaringan anaknya itu. Entah masih berada dalam dunia mimpinya, perkataan itu tak digubris Udin.
“Udin ayo bangun, entar kamu telat masuk sekolahnya,” kalimat Raodah sedikit mengoyang-goyangkan tubuh anaknya. Namun, alangkah nikmatnya dunia mimpi, membuat Udin tak kunjung bangun.

Dengkuran udin masih terdengar begitu jelas dikedua telinga Raodah, membuatnya bertambah kesal. Bantal guling yang ada di sisi kanan tubuh anaknya itu diambilnya lalu di pukulkannya ke arah wajah Udin dengan pelan.
“Udiiiin, bangun”. Bukan mendengar, namun merasakan hantaman guling ke wajahnya membuat Udin seketika tersentak bangun. Terlihat sedikit lucu atas respon anaknya membuat Raodah tersenyum mengusir kekesalan hatinya pada anaknya.
 

“Ah ibu, menggangu mimpi Udin saja,” Ucapan spontan Udin disaat melihat ibunya tersenyum pahit padanya.
“Mimpi, mimpi. Sekarang kamu cepat mandi tidak lama waktunya kamu masuk sekolah”.
“Sekolah, sekolah lagi. Udin malas masuk sekolah bu. Bosan,” Balas Udin sembari menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal. Alangkah kaget hati Raodah, ia tak habis pikir bahwa anaknya akan berkata seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar